Sejarah sastra

a. pengertian sejarah sastra
Sejarah sastra adalah cabang Ilmu sastra yang memfokuskan pada studi perkembangan karya sastra sejak awal pertumbuhannya hingga perkembangannya sampai sekarang.
Perkembangan sastra pada masing-masing tahap ditandai oleh dua kriteria. Yakni kriteria yang berkaitan dengan aspek intrinsik dan kriteria yang berkaitan dengan aspek ekstrinsik.
b. lingkup sejarah sastra
Studi sejarah sastra memiliki cakupan yang luas, antara lain meliputi persoalan-persoalan berikut:
1) pereodisasi sastra atau pembabakan wakty dalam perkembangan sastra
2) perkembangan atau tombul tenggelamnya suatu genre (jenis) sastra, seperti sejarah perkembangan prosa (roman, novel, cerpen), puisi, dan drama;
3) lahirnya suatu gerakan (angkatan) dalam sastra;
4) perkembangan aliran-aliran yang ada pada suatu periode atau suatu angkatan;
5) pengaruh sastra lama dan sastra asing terhadap sastra modern, dan
6) pertumbuhan dan perkembangan gaya bahasa.

c. hubungan sejarah sastra dan studi sastra yang lain
1) hubungan sejarah sastra dan teori sastra
Hubungan ini tidak hanya bersifat searah tetapi dua arah atau hubungan timbal-balik. Penyusunan sejarah sastra tidak dapat dilaksanakan tanpa disadari oleh teori sastra. Pembicaraan suatu angkatan, misalnya,tidak akan terlepas dari pembicaraan gaya bahasa, aliran, genre sastra, latar belakang cerita, tema, dan sebagainya.
Penyusunan teori sastra pun memerlukan bahan-bahan dari hasil studi sejarah-sejarah sastra.
2)sejarah sastra dan kritik sastra
Studi sejarah sastra tidak dapat dilepaskan dari kritik sastra. Demikian pula, studi kritik sastra juga memerlukan hasil dari studi sejarah sastra. Sebagai suatu contoh, pada setiap periode jumlah karya sastra yang dihasilkan pengarang untuk masing-masing genre sangat banyak. Untuk melihat karakteristik yang kuat atau bobot kesastraan yang menonjol pada masing-masing karya sastra untuk setiap periode, dibutuhkan hasil kerja studi kritik.

2. Problematika Pembabakan Sastra Indonesia
a. Permulaan Sastra Indonesia
Para ahli sejarah sastra ada yang mematok permulaan sastra Indonesia itu sejak bangkitnya nasionalisme yaitu pada tanggal 20 Mei 1908, ada pula yang berpendapat bahwa kesusasteraan Indonesia itu berawal pada saat dikumandangkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, dan ada yang berpendapat bahwa kesusasteraan Indonesia berawal dari adanya pengakuan secara formal mengenai negara, bangsa, dan bahasa Indonesia, yakni tahun 1945.

1) Pendapat Nugroho Notosusanto
Nugroho Notosusanto berpendapat bahwa jika membicarakan sastra Indonesia bukan berarti membicarakan bahasa Indonesia, melainkan sastra nasional Indonesia. Telah ditetapkan tanggal 20 Mei 1908 sebagai hari Kebangkitan Nasional karena semua kegiatan bangsa Indonesia sejak itu didasari oleh semangat nasionalisme. Sastra Indonesia sebagai sastra nasional Indonesia telah berkembang sejak permulaan abad ke-20.

2) Pendapat Umar Junus
Menurut Umar Junus Sasra Indonesia baru mylai berkembang pada sekitar 28 Oktober 1928, yakni saat diikrarkannya Tri Sumpah Pemuda. Umar Junus beranggapan bahwa sastra terikat erat pada bahasa.

3) Pendapat Slamet Mulyana
Slamet Mulyana mengatakan bahwa sastra Indonesia mulai ada sejak tahun 1945. pengertian sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari Indonesia sebagai nama suatu negara, pada tahun itu, tepatnya 18 Agustus 1945, bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa resmi negara Republik Indonesia.

b. Macam-macam Pembabakan Sastra Indonesia
1) Istilah dalam Pembabakan Sastra Indonesia
Ada tiga istilah yang digunakan untuk pembabakan sastra Indonesia yaitu periode, angkatan, dan generasi. Kedua istilah itu sebenarnya memiliki perbedaan, tetapi dalam prakteknya sering dicampuradukkan. Istilah period atau periode mengacu pada kesatuan waktu dalam perkembangan sastra yang dikuasai oleh suatu sistem norma tertentu. Angkatan adalah sekelompok pengarang yang memiliki kesamaan konsepsi atau kesamaan ide yang hendak dilaksanakan dan diperjuangkan.
2) Macam-macam Periodisasi Sastra Indonesia
Dalam sejarah sastra Indonesia para ahli kegiatan sastra para ahli sastra mengemukakan pendapat yang beragam dalam masalah periodisasi sastra. Pangkal perbedaan itu terutama disebabkan sekurang-kurangnya empat hal:
(1) tidak adanya kesatuan istilah yang dipergunakan. Ada yang menggunakan istilah angkatan, periode, dan ada pula yang memakai istilah generasi.
(2) tidak adanya kesamaan pengertian terhadap istilah-istilah tersebut. Mengenai istilah angkatan.
(3) tidak adanya kesamaan nama yang digunakan untuk menyebut sesuatu angkatan atau suatu periode.
(4) tidak adanya konsistensi yang jelas dalam penentuan waktu untuk masing-masing periode atau angkatan.

Sehubungan dengan pembabakan sastra yang dilakukan para ahli, pembahasan pembabakan berikut difokuskan pada pembabakan sastra Indonesia yang meliputi
(1) sastra Indonesia Zaman Balai Pustaka
(2) sastra Indonesia zaman Pujangga Baru
(3) sastra Indonesia zaman Jepang
(4) sastra Indonesia Angkatan 45
(5) iri sastra Indonesia Angkatan 66
(6) sastra Indonesia Angkatan 70-an, dan
(7) sastra Indonesia Angkatan 80-an.

c. Problematika Sastra Indonesia pada Zaman Balai Pustaka
1) Balai Pustaka sebagai Badan Penerbit
2) Latar belakang sosial sastra Balai Pustaka pada umumnya berupa pertentangan paham antara kaum tua dan kaum muda.
3) Unsur nasionalisme pada sastra Balai Pustaka belum jelas benar, meskipun tidak berarti bahwa unsur ini tidak ada sama sekali.
4) Bila dibandingkan dengan cerita-cerita lama, peristiwa-peristiwa yang diberitakan oleh sastra Balai Pustaka sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat.
5) Analisis psikologis tokoh-tokoh cerita belum dilukiskan secara mendalam.
6) Sastra Balai Pustaka merupakan sastra bertendens dan bersifat didaktis.
7) Bahasa sastra Balai Pustaka adalah bahasa Indonesia pada masa permulaan perkembangannya, yang pada masa itu disebut bahasa Melayu Umum.
8) Genre (jenis) sastra Balai Pustaka terutama berupa roman, sedangkan puisinya masih berupa pantun dan syair, roman barangkali dipandang sebagai bentuk yang efektif untuk menyuarakan unsur-unsur didaktis.

3) Tiga Pengarang Penting Balai Pustaka
Tiga pengarang penting angkatan balai pustaka adalah Nur Sutan Iskandar, Abdul muis, dan Marah Rusli. Abdul Muis termasuk pengarang penting karena romannya Salah Asuhan oleh para kritikus sastra dipandang sebagai roman yang paling menonjol dari segi pengolahan ceritanya. Marah Rusli dipandang sebagai pengarang penting, karena romannya siti Nurbaya merupakan hasil sastra Balai Pustaka yang paling banyak dibaca orang. Kedua roman tersebut lazim disebut sebagai roman puncak sastra Angkatan Balai Pustaka.
Pengarang-pengarang lain yang ikut berperan pada zaman Balai Pustaka ini adalah Aman Datuk Mojoindo, Muhammad Karim, Tulis Sutan Sati, dan Merari Siregar. Selain pengarang pria ada beberapa pengarang wanita Balai Pustaka mereka adalah Nurani, Sa’adah, dan Selasih.

d. Problematika Sastra Indonesia Zaman Pujangga Baru
1) Majalah Pujangga Baru
Ada dua pengertian berkenaan dengan nama Pujangga Baru. Pertama, Pujannga Baru sebagai nama sebuah majalah, dan kedua, Pujangga Baru sebagai nama sebuah angkatan Sastra Indonesia. Antara keduanya erat hubungannya.
Pujangga Baru sebagai nama sebuah majalah mengalami dua periode penerbitan yaitu penerbitan sebelum perang (julli 1933 sampai dengan Maret 1942) dan penerbitan sesudah perang (Maret 1948 sampai dengan Maret 1953).
Majalah Pujangga Baru sebelum perang bersifat homogen, artinya ia merupakan pembawa semangat dari satu cita-cita. Majalah Pujangga Baru sesudah perang bersifat heterogen, artinya ia kecualli sebagai pembawa semangat angkatan Pujangga Baru, juga membawa suara suatu angkatan sesudahnya.

2) Karakteristik Sastra Zaman Pujangga Baru
Beberapa karakter Angkatan Pujangga Baru dapat dikemukakan sebagai berikut.
(1) Tema pokok cerita pada umumnya tidak lagi berkisar pada masalah kawin paksa atau masalah adat yang ada di daerah-daerah, tetapi masalah kehidupan kota ataukehidupan masyarakat modern.
(2) Karya-karya yang dihasilkan pengarang baik puisi maupun prosa mengandung nafas kebangsaan atau unsur nasionalisme.
(3) Para pengarang memiliki kebebasan dalam menentukan bentuk pengucapan sesuai dengan kepribadiannya.
(4) Bahasa sastra Pujangga Baru adalah bahasa Indonesia yang banyak hidup di tengah masyarakat.
(5) Sebagian besar prosa maupun puisi mengandung suasana romantik.
(6) Terdapat unsur yang merupakan pengaruh dari sastra lain, terutama pengaruh dari angkatan ’80.

3) Pengaruh Angkatan 80 terhadap Pujangga Baru
a) Angkatan 80 dan Tokoh-tokohnya
Pada tahun 1880 di negeri Belanda tampil pengaranng yang berusaha hendak mengadakan pembaharuan di bidang kebudayaan. Sesuai dengan tahun munculnya gerakan itu, maka mereka disebut dengan angkatan atau gerakan 80. tokoh-tokoh gerakan itu ialah Willem kloos, Lodewijk van Deyssel, Frederik van Eeden, Albert Verwey, Herman Gorter, dan Jacques Peerk.
Tokoh-tokoh Angkatan 80 mencari ilham bagi karangan-karangannya dari negeri di sekitarnya, seperti apa yang dilakukan juga oleh tokoh-tokoh Pujangga Baru. Puisi-puisinya banyak menerima pengaruh dari aliran romantik Inggris yang berkembang pada pemulaan abad 19, sedangkan prosanya menerima pengaruh naturalisme Perancis. Akan tetapi, aliran romantik dalam angkatan 80 lebih kuat berkembang dan itu banyak mempengaruhi corak sastra Pujangga Baru.
Dalam perkembangannya yang kemudian, timbul semacam pecahan di dalam tubuh Angkatan 80, yaitu antara golongan Willem Kloos dengan golongan Albert Verwey. Willem Kloos berpendapat bahwa seni adalah ekspresi yang paling individual dan emosi yang paling individual (do allerindividuaeelste exspressie van de aller individueelste emotie), sedangkan bagi Deyssel seni adalah passi, kegairahan (kunst is passie).
Disini tampak bahwa seni mereka bersifat subjektif, individual, asosial, dan keindahan dipertuhan.
b) Perbandingan Angkatan Pujangga Baru dan Angkatan 80
Ada dua alasan pokok yang menyebabkan Angkatan Pujangga Baru mendapat pengaruh dari Angkatan 80, yaitu (1) adanya semangat hidup yang sama dan (2) kebetulan bangsa Indonesia pada masa itu berada di bawah kekuasaan pemerintahan Belanda.
Perbedaan antara Angkatan Pujangga Baru dan Angkatan 80 adalah
Pertama, pada umumnya Angkatan 80mengutamakan unsur estetis murni, sedangkan Pujangga Baru lebih mengutamakan unsur tujuan sosial yang jelas.
Kedua, sebagian besar Angkatan Pujangga Baru menolak sifat andividualisme yang dianut oleh Angkatan 80.
Persamaan kedua angkatan itu adalah
Pertama, keduanya menentang sastra sebelumnya yang dianggap sudah merosot nilainya dan yang penuh dengan konvevsi-konvensi, Angkatan Pujangga Baru menentang Sastra Melayu Klasik yang dirasa statis dan beku, sedangkan Angkatan 80 menentang sastra pendeta yang dirasa sangat lamban.
Kedua, keduanya dalam mencari bentuk pengucapan yang baru mencari contoh dari luar. Pujangga mencari model dari Angkatan 80 negeri Belanda, sedangkan Angkatan 80 mendapat pengaruh dari Inggris (dalam puisi) dan Prancis (dalam prosa).

4) Para Pengarang Pujangga Baru
Di dalam antologinya yang berjudul Pujangga Baru. Prosa dan Puisi (1963), H.B. Jassin mencoba mengumpulkan beberapa tulisan dari pengarang yang digolongkan ke dalam pengarang Pujangga Baru. Kecuali lima tokoh penting Pujangga Baru seperti Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Sanusi Pane, Armyn Pane, dan Mr. Muhammad Yamin, terdapat pula nama-nama pengarang M. Taslim Ali, Sutomo Jauhar Arifin, L.K. Bohang, M.R. Dayoh, Hamidah, Rustam Effendi, Asmara Hadi, A. Hasymy, Mozaza, Suman Hs, Rifai Ali dan lain lain.

e. Problematika Sastra Indonesia Zaman Jepang
Pusat Kebudayaan atau Keimin Bunka Shidosho didirikan. Alasan untuk mendirikan pusat kebudayaan ini adalah menyatukan Kehidupan Kebudayaan. Disini pemerintah Jepang memaksakan kemauannya dengan jalan melakukan sensur terhadap karangan-karangan, termasuk puisi. Mana yang tidak sesuai dengan cita-cita Perang Asia Timur Raya (Dai Toa Senso), tidak dapat dimuat, dibuat kekeranjang sampah.
Sastrawan hendak dipakai oleh Jepang sebagai alat propaganda; puisi sebagai alat propaganda, untuk kemenangan Asia timur Raya. Jadi, pada hakekatnya seniman-seniman hanyalah untuk sebagai alat propaganda dan untuk menjepangkan bangsa Indonesia, di samping sebagai alat penindas kebudayaan belaka.
1)Keberadaan Angkatan ‘42
Masalah angkatan merupakan masalah yang peka sekali dalam sastra Indonesia. Pengumuman tentang lahirnya suatu angkatan oleh penelaah sastra selalu menjadi bahan polemik di antara para pengamat dan penelaah sastra. Meskipun selanjutnya, sulit bagi seorang penelaah sastra Indonesia untuk menghindarkan diri dari penggunaan istilah-istilah angkatan yang pernah dilontarkan, seperti pemakaian istilah: Angkatan ’42, Angkatan ’45, Angkatan ’66, dan lain-lain.