BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian
Bekerja adalah kewajiban dan dambaan bagi setiap orang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan sepanjang masa, selama dia mampu berbuat untuk membanting tulang, memelas keringat dan memutar otak. Bekerja bukan sekedar memperoleh penghasilan bagi kepentingan keluarga, namun terkait mengejar “status sosial”. Pada alam pembangunan, setiap orang mempunyai kepandaian dan pekerjaan menurut kemampuan dan bidang yang disenangi, baik di lingkungan pemerintah sebagai pengabdi negara dan masyarakat. Bekerja pada hakikatnya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga bagi kepentingan yang memberikan manfaat pihak lain (Anoraga, 1992: 26-27).
Bekerja sebenarnya tidak hanya sekedar mengejar kekayaan menuruti hawa nafsu, akan tetapi juga harus dilandasi idealisme. Antara bekerja dan idealisme, tentu tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling memberikan semangat dan nafas untuk menciptakan suasana lebih positif. Jika salah satu ditinggalkan sangat naif. Di lain pihak, bekerja merupakan proses belajar sepanjang masa (Anoraga, 1992: 26-27).
Menurut Surya (2003: 88-89) kata “etos”bersumber dari pengertian yang sama dengan etika, yaitu sumber-sumber nilai yang dijadikan rujukan dalam pemilihan dan keputusan prilaku. Etos kerja lebih merujuk kepada kualitas kepribadian pekerja yang tercermin melalui unjuk kerja secara utuh dalam berbagai dimensi kehidupannya. Dengan demikian etos kerja lebih merupakan kondisi internal yang mendorong dan mengendalikan prilaku pekerja ke arah terwujudnya kualitas kerja yang ideal. Kualitas unjuk kerja dan hasil kerja banyak ditentukan oleh kualitas etos kerja ini. Sebagai suatu kondisi internal, etos kerja mengandung beberapa unsur antara lain : (1) Disiplin kerja, (2) Sikap terhadap pekerjaan, (3) Kebiasaan-kebiasaan bekerja. Dengan disiplin kerja, seorang pekerja akan selalu bekerja dalam pola-pola yang konsisten untuk melakukan dengan baik sesuai dengan tuntutan dan kesanggupannya.
Etos kerja merupakan tuntutan internal untuk berprilaku etis dalam mewujudkan unjuk kerja yang baik dan produktif. Dengan etos kerja yang baik dan kuat sangat diharapkan seseorang pekerja akan senantiasa melakukan pekerjaannya secara efektif dan produktif dalam kondisi pribadi yang sehat dan berkembang. Perwujudan unjuk kerja ini bersumber pada kualitas kompetensi aspek kepribadian yang mencakup aspek religi, intelektual, sosial, pribadi, fisik, moral, dan sebagainya. Hal itu dapat berarti bahwa mereka dipandang memiliki etos kerja yang tinggi, kuat dan memiliki keunggulan dalam kompetensi-kompetensi tersebut (Surya, 2003: 90).
Studi pendahuluan di lapangan menunjukkan bahwa sering kali ditemui para pegawai pergi kemana-mana dengan memakai seragam dinas dan pada waktu jam dinas. Dari studi pendahuluan tersebut peneliti ingin mengkaji lebih dalam mengenai etos kerja pegawai di kantor Pemerintah Daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan dimana etos kerja mencakup Disiplin kerja, sikap terhadap pekerjaan, dan kebiasaan-kebiasaan bekerja pegawai.
Jadi dengan demikian, etos kerja pegawai setidaknya dapat lebih dikembangkan dan terus ditingkatkan sehingga diharapkan mampu memberikan hasil kerja yang memuaskan terhadap masyarakat, daerah, dan negara.

B. Fokus Penelitian
1. Etos Kerja Pegawai di Kantor Pemerintah Daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
2. Cara Meningkatkan Etos Kerja Pegawai di Kantor Pemerintah Daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

C. Rumusan Masalah
Masalah pokok dalam penelitian ini adalah etos kerja pegawai di kantor Badan Pemerintah Daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sehubungan dengan latar belakang masalah di atas maka penulis mengidentifikasi permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana Etos Kerja Pegawai di Kantor Pemerintah Daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
2. Bagaimana Cara Meningkatkan Etos Kerja Pegawai di Kantor Pemerintah Daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Etos Kerja yang mencakup beberapa faktor, yaitu:
• Disiplin kerja dalam hal kehadiran ke kantor, dan aturan waktu bekerja di kantor Pemerintah Daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
• Sikap pegawai terhadap pekerjaan dalam hal tingkat kerja yang tinggi dari pegawai kantor Pemerintah Daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
• Kebiasaan-kebiasaan bekerja pegawai dalam hal memanfaatkan waktu bekerja yang maksimal di kantor dan kebiasaan pegawai berada di ruangan kantor pada waktu jam kerja di kantor Pemerintah Daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
2. Untuk mengetahui peningkatan Etos Kerja yang dicapai dari para pegawai Kantor Pemerintah Daerah Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

E. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan pegawai yang lebih baik, bertanggung jawab, dan professional serta pengembangan teori administrasi pada khususnya.
2. Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu mengetahui betapa pentingnya etos kerja dalam suatu pekerjaan serta penelitian ini bisa dimanfaatkan sebagai masukan bagi kantor dan pegawai-pegawai Pemerintahan selaku pelaku pembangunan.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Etos Kerja
Etos kerja adalah suatu pandangan dan sikap cerminan suatu bangsa atau satu umat terhadap kerja. Kalau pandangan dan sikap itu melihat kerja sebagai suatu hal yang luhur untuk eksistensi manusia, maka etos kerja itu akan tinggi. Sebaliknya kalau melihat kerja sebagai suatu hal yang tidak berarti untuk kehidupan manusia, apalagi kalau sama sekali tidak ada pandangan dan sikap terhadap kerja, maka etos kerja itu dengan sendirinya rendah (Anoraga, 1992: 29).
Etos kerja menurut Abdullah (Taryati,dkk, 1998: 108) adalah sebagai alat dalam pemilihan. Dengan demikian, dalam pengertian ini maka etos kerja dapat dilihat dalam dua segi. Pertama, menyangkut kedudukan kerja dalam hirarki nilai apakah kerja dianggap sebagai suatu yang dilakukan secara terpaksa sebagai pilihan utama atau malah sebagai panggilan atau bekerja sebagai kegiatan rutin yang harus dijalani manusia. Kedua, apakah di dalam hirarki itu ada perbedaan dasar dalam memilih dari berbagai jenis pekerjaan yang satu lebih penting dari pekerjaan yang lain.
Bekerja sebenarnya tidak hanya sekedar mengejar kekayaan menuruti hawa nafsu, akan tetapi juga harus dilandasi idealisme. Antara bekerja dan idealisme, tentu tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling keterkaitan dan saling memberikan semangat, nafas untuk menciptakan suasana yang lebih positif. Melalui bekerja dapat diperoleh beribu pengalaman manis maupun pahit. Dorongan bekerja bahwa hari esok harus lebih baik dari pada hari ini, oleh karena itu dituntut kerja keras, kreatif dan siap menghadapi tantangan zaman (Anoraga, 1992: 27).
B. Disiplin Kerja dan Efisiensi Kerja
Menurut susunan W.J.S. Poerwadarminta (Anoraga, 1992: 46) bahwa disiplin dalam kamus umum Bahasa Indonesia adalah :
1. Latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perbuatannya selalu menaati tata tertib,
2. Ketaatan pada aturan dan tata tertib.
di dalam organisasi, usaha-usaha untuk menciptakan disiplin, selain melalui adanya tata tertib/peraturan yang jelas, juga harus ada penjabaran tugas dan wewenang yang jelas, tata cara atau tata kerja yang sederhana yang dapat dengan mudah diketahui oleh setiap anggota organisasi.
Efisiensi dapat diartikan sebagai cermat, tidak membuang-buang energi dan waktu, sedangkan efisiensi adalah usaha untuk memberantas segala pemborosan bahan dan tenaga kerja maupun gejala yang merugikan. Dalam kamus Administrasi Perkantoran, oleh The Liang Gie (Anoraga, 1992: 46), efisiensi disebutkan sebagai perbandingan terbaik antara suatu usaha dengan hasilnya. Efisiensi dalam pekerjaan adalah perbandingan yang terbaik antara suatu kerja dengan hasil yang dicapai oleh kerja itu.
Mengingat begitu pentingnya masalah disiplin kerja dan efisiensi tersebut demi peningkatan prestasi kerja,sudah tiba saatnya kita sekarang mencari dimana sebenarnya letak sumber disiplin dan efisiensi. Secara singkat dapat disebutkan bahwa sumber disiplin dan efisiensi adalah adanya kesadaran, disamping itu juga harus ada keahlian atau keterampilan yang tinggi dalam melaksanakan tugas (Anoraga, 1992:46).
Jadi dapat disimpulkan, bahwa disiplin dan efisiensi adalah suatu sikap, perbuatan untuk selalu menaati tata tertib. Pada pengertian disiplin juga tersimpul dua faktor yang penting, yaitu faktor waktu dan kegiatan atau perbuatan (Anoraga, 1992:46)

C. Sikap Kerja
Pekerjaan adalah sumber penghasilan, sebab itu setiap orang yang ingin memperoleh penghasilan yang lebih besar dan tingkat penghidupan yang lebih baik, haruslah siap dan bersedia untuk bekerja keras. Biarlah setiap orang makan dan minum dari jerih payahnya sendiri. Yang tidak bekerja janganlah ia makan. Kita wajib memerangi kemalasan dan keengganan bekerja atau keengganan berusaha (Anoraga, 1992:24).
Dengan kesadaran seperti itu, seorang yang mampu bekerja tidak akan menggantungkan dirinya atas beban orang lain, dan tidak akan memenuhi kebutuhan hidupnya secara tidak wajar seperti mencuri, merampok, atau korupsi. Setiap orang akan merasa bahagia menikmati dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari penghasilan yang diperoleh sebagai imbalan atas hasil kerjanya (Anoraga, 1992: 24)
Sikap terhadap pekerjaan merupakan landasan yang paling berperan, karena sikap yang mendasari arah dan intensitas unjuk kerja yang baik didasari oleh sikap mendasar yang positif dan wajar terhadap pekerjaannya. Mencintai pekerjaannya sendiri adalah salah satu contoh sikap terhadap pekerjaan. Demikian pula keinginan untuk senantiasa mengembangkan kualitas pekerjaan. Orientasi kerja juga termasuk ke dalam unsur sikap ini, seperti orientasi terhadap hasil tambah, orientasi pengembangan diri, dan orientasi terhadap pengabdian masyarakat (Surya, 2003: 89).
Setiap pekerjaan yang dapat dilakukan dengan produktif, halal dan tidak amoral harus dihargai dan dilihat sebagai sumber penghasilan, kesempatan dan berkat. Sebab itu setiap orang harus menghargai pekerjaan sendiri serta menghargai martabat orang lain, lepas dari pertimbangan halus kasarnya pekerjaan, jenis pekerjaan atas atau pekerjaan fisik (Anoraga, 1992: 25).

D. Kebiasaan-kebiasaan bekerja
Kebiasaan bekerja merupakan pola prilaku kerja yang ditunjukkan oleh pekerja secara konsisten. Beberapa unsur kebiasaan kerja antara lain: kebiasaan mengatur waktu, kebiasaan pengembangan diri, disiplin kerja, dan kebiasaan hubungan antara manusia serta kebiasaan bekerja keras.