Ada situasi dan kondisi yang kompleks yang membuat seorang atasan memiliki keterbatasab dakam mengatasi konflik. Seringkali, lingkungan perusahaan yang khas menyebabkan sistem manajemen yang diterapkan mengalami modifikasi dan penyesuaian yang sedemikian rupa, sehingga tumbuhnya konfliknya. Improvisasi manajemen semacam itu biasanya tidak disenangi oleh manajer-manajer yang konsisten terhadap gaya manajemen barat, dan menerapkannya secara kaku dalam pola budaya timur. Situasi seperti ini tentu saja merupakan media konflik periodik. Apalagi bila manajemen puncak menerapkan sistem anak emas atau sistem persaingan yang sangat ketat.
Apabila manajemen telah mengidentifikasi konflik antar karyawan dengan baik, maka kini giliran peraturan dan kebijakan perusahaan yang harus diteliti terhadap kemungkinan sebagai penyebab suburnya konflik. Dalam suatu perusahaan keluarga, menaati peraturan-peraturan yang tertulis sangatlah mudah, tetapi untuk menaati peraturan yang tidak tertulis adalah teramat sulit. Apalagi, apabila peraturan tercecer dan tidak dibukukan, karena keluarnya tidak bersamaan dan hanya dibutuhkan apalagi ada kasus yang sudah terjadi.
Metode klasik yang dipilih manajemen biasanya dengan memusyawarahkan pihak-pihak yang berselisih sehingga memuaskan kedua belah pihak. Langkah musyawarah dilakukan dengan menurunkan derajat perbedaan-perbedaan dan mempertemukan titik-titik persamaan pandangan.
Metode penyelesaian secara pemisahan, yaitu dengan menempatkan pihak-pihak yang berselisih pada bagian yang tidak berhubungan dengan tujuan untuk menghindari situasi yang diambil potensi konflik. Dalam suatu perusahaan kecil, metode penyelesaian seperti ini tidak dapat dilakukan karena keeratan antar bagian nantinya akan luntur dan hilang. Oleh karena itu langkah yang diambil biasanya berupa kompromi walaupun tidak memuaskan kedua belah pihak. Tetapi karena menyangkut kepentingan yang lebih besar, maka konflik untuk sementara dibekukan atau diambangkan, sepanjang tidak menyangkut masalah prinsip.
Menurut Nurwitri Hardono (1986), dalam suatu lingkungan perusahaan seorang karyawan mungkin sering atau pernah mengalami suatu konflik, entah itu dengan atasan, teman kerja, bawahan atau dengan dirinya sendiri. Konflik ini tidak bersifat merusak, dan manakala konflik ini tidak segera ditanggulangi bisa menyebabkan permusuhan abadi yang mendorong seseorang untuk memusuhi orang lain dan mencari kerja untuk menundukkan musuhnya, bukannya mencari cara untuk menyelesaikan masalah. Manakala konflik itu semakin memburuk dan berlangsung lama, timbullah suasana saling mencurigai dan saling tidak mempercayai.

Buku Psikologi kerja: Drs. Pandji Anoraga, Penerbit Rineka Cipta 1992